Hikayat Seekor Pipit dan Cicak

Disadur dari naskah : Gede Badan

Dahulu, saat Nabi Ibrahim AS dibakar oleh Raja Namrud datanglah burung pipit yang bolak balik mengambil air dan meneteskan air itu diatas api yang membakar Nabi Ibrahim AS…

Seekor cicak yang melihatnya tertawa.

“Hai pipit!” serunya. “Bodoh sekali kau melakukan perbuatan itu. Paruhmu yg kecil hanya bisa menghasilkan beberapa tetes air saja. Mana mungkin bisa memadamkan api itu.” Lanjutnya sambil tersenyum mengejek.

Dengan tenang, si pipit menjawab, “Wahai cicak, memang secara logika tidak mungkinlah aku bisa memadamkan api yg besar itu. Tapi aku tidak mau jika Allah melihatku diam saja saat sesuatu yg Allah cintai di zhalimi. Allah tak akan melihat hasilnya apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak. Tapi Allah akan melihat dimana aku berpihak.”

Cicak terus tertawa. Bahkan dia malah mengejek si pipit dengan menjulurkan lidahnya untuk meniup api yang membakar Nabi Ibrahim AS.

***

Secara logika, memang air yang jatuh dari paruh si pipit tidak akan mampu memadamkan api yang terlanjur membakar tubuh nabi Ibrahim as. Pun tiupan cicak juga tidak ada artinya, tidak menambah besar api yang sedang membakar beliau. Tapi, Allah melihat dimana si pipit dan si cicak berpihak.

Hikayat ini terjadi sekarang dan akan terus berulang. Saat Alquran dibenci seorang kafir.. Dihinakan.. Aku bertanya padamu wahai sahabat, “Dimana kau berpihak?”

Memang, kalau dipikir pendapatmu tidak akan mengubah sedikitpun hukum yang telah mereka perkosa. Tapi Allah akan mencatat dimana kau berpihak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s