Merenung di Lereng Uhud

Bulan Syawwal tahun ketiga dari hijrahnya Rasulullah Saw.

Rasulullah sedang mengamati medan tempat peperangan akan berlangsung padanya. Medan pasir yang luas ditambah dengan bukit Uhud dibelakangnya. Dengan ketajaman analisis medan dan kecerdikan siasat perang beliau, 50 orang pemanah ditempatkan di bukit Uhud, sebagai tameng. Wasiat Nabi Saw. pun disampaikan kepada mereka, “Janganlah kalian meninggalkan pos walaupun kalian melihat kami disambar burung-burung.”

Perang Uhud berkecamuk dahsyat. Rasulullah Saw. memimpin pasukan Islam dengan gagah berani, didampingi Hamzah bin Abdul Muththallib yang merangsak maju bagaikan singa yang kelaparan.

Dari kejauhan, pasukan berkuda Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, panglima kavaleri kafir, hanya masih menatap jalannya pertempuran. Dia ditemani oleh puluhan orang anggota kavaleri lainnya.

Keadaan di permulaan merupakan kegemilangan bagi muslimin. Pasukan kafir terdesak hebat. Kaum muslimin bertempur laksana air bah yang menggenangi seluruh medan pertempuran. Semakin lama semakin tampak bahwa pasukan kafir, walau jumlahnya nyaris tiga kali lipat dibandingkan jumlah pasukan Islam, sudah berada di ambang kekalahan.

Akhirnya pasukan kafir mundur tunggang langgang. Melihat hal itu, pasukan muslimin pun segera berebut mengumpulkan ganimah yang mereka tinggalkan, mengira bahwa kaum kafir telah kalah dan takkan kembali. Bahkan, puluhan pasukan panah yang telah diberi wasiat oleh Rasul untuk tetap di tempat dalam keadaan apapun juga, ikut berlari menuruni bukit meninggalkan posnya. Tinggal di bukit itu hanya tersisa dua atau tiga orang saja, sedangkan yang lain turun dari bukit untuk ikut mengejar musuh yang mulai lari meninggalkan medan perang.

Ya,… pasukan pemanah yang telah diberi wasiat oleh Nabi Saw. untuk tidak meninggalkan pos, sekarang berbondong-bondong menuruni bukit.

Dalam keadaan kacau seperti itu, Khalid bin Walid bersama pasukannya yang sedari tadi hanya membuat berdiam menunggu kesempatan untuk menggempur, memacu kuda mereka berputar mengelilingi bukit pemanah (Jabal Rumat) untuk melakukan serangan tiba-tiba terhadap pasukan Islam dari belakang. Karena kuda mereka dipacu dalam kecepatan tinggi, maka dalam waktu singkat mereka sudah muncul dari balik bukit dan menyerang tentara Islam dari belakang.

Manuver serangan Khalid dan pasukan kavalerinya berhasil membalik keadaan. Kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah Saw. kalang kabut. Mereka terpaksa mundur ke gunung. Banyak dari mereka yang gugur sebagai syuhada, salah satunya adalah Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Rasulullah Saw. yang sangat beliau cintai. Rasul sendiri mengalami luka cukup parah karena dikeroyok oleh orang-orang kafir, sebelum diselamatkan oleh Thalhah bin Ubaidillah yang menderita lebih dari tujuh puluh luka di tubuhnya.

Dalam cerita tersebut, kita bisa mengambil pelajaran dari tindakan indisipliner pasukan panah muslimin, yakni dengan meninggalkan pos mereka. Sebenarnya, jika mereka tidak melakukannya, niscaya kavaleri Khalid takkan dapat melakukan manuver serangan itu. Apabila lima puluh personel pasukan panah tetap berada di tempatnya, kavaleri yang hendak menyergap dari belakang akan dihujani panah sehingga serangan menjadi tak efektif, bahkan bisa jadi kebanyakan pasukan itu malah menjadi mayat ditempat sebelum mereka bisa melakukan manuver itu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala. berkalam:

“Dan sungguh Allah telah menunaikan janjiNya kepada kalian (untuk menolong) tatkala kalian memerangi mereka. Sampai ketika kalian menjadi pengecut dan saling berselisih dalam perkara itu, juga kalian menjadi durhaka setelah Dia memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai (maka Dia cabut pertolongan tersebut); sebagian dari kalian ada yang menginginkan dunia dan sebagian kalian ada yang menginginkan akhirat. Kemudian Dia palingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian. Dan sungguh Dia telah memaafkan kalian; dan Allah itu mempunyai karunia atas orang-orang yang beriman (_) Ingatlah tatkala kalian menuruni bukit dan kalian tidak menoleh kepada seorangpun, sedang sang Rasul menyeru kalian dari belakang; maka Dia membalas kalian dengan kekalahan dan rasa sakit supaya kalian tidak merasa sedih atas apa yang telah hilang dari kalian dan apa yang menimpa kalian. Dan Allah itu Maha Banyak Khabarnya atas apa yang kalian kerjakan (_)” [Ali ‘Imran (3) : 102-103]

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menegaskan bahwa pencabutan karunia yang berupa pertolongan terjadi setelah adanya perselisihan di antara muslimin. “Sampai ketika kalian menjadi pengecut dan saling berselisih dalam perkara itu, juga kalian menjadi durhaka setelah Dia memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai; sebagian dari kalian ada yang menginginkan dunia dan sebagian kalian ada yang menginginkan akhirat. Kemudian Dia palingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian (Dia cabut pertolongan tersebut).”

Dia juga berkalam,

“Dan kalian taatilah Allah dan rasulNya, juga kalian jangan berselisih maka kalian menjadi berpecah dan hilang wibawa kalian… .” [Al-Anfal (8) : 46]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s