Suratku, Untukmu…

Sunnatullah itu, telah diangkat penanya
Telah kering tintanya
Bahwa kuntum mawar itu kan layu dan gugur
Sungguh baru beberapa waktu lalu
Ia gagah, mekar, merah merona
Menghampirinya  para kumbang berdatangan  

Benarlah jika selalu dirindu
Semerbak harum wanginya selalu ditebar
Kebaikan nektar madunya selalu ditimba tetapi mawar tetaplah mawar
Kan tiba masanya ia merintih
Wahai para kumbang maafkan aku
Kesetiaanku kepada kalian tidaklah abadi

Kini saatnya kuncup mawar kecil itu merekah
Tuk menebar mafaat yang harus hadir
Pohon mawar ini tak boleh mati
Meski keguguran ini memanggil diriku
Ketika sesepuh pejuang jalan ini bertitah
“telah tiba masa giliranmu”

Ketika istirahat mengartikan berpindah
Kitalah para penerus jalan juang ini
Panji syiar Islam kan terus tegak
Meski badai fitnah dahsyat menarpa
Perkasalah laksana batu karang
Tegar berdiri kukuh tekadnya

Bendera estafet kini telah dipundak
Pikullah ia dan jangan kau lempar
Amanah ini haruslah diemban
Dalam tanggungan kita para pemuda
Sanggupkah engkau?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s