Mencari Cita yang Hilang

Lelaki itu sangat gagah, lebih gagah dari pemeran utama film terminator, Arnold Schwarzenegger yang Yahudi. Kecerdikannya dalam mencari siasat perang lebih unggul dari Napoleon Bonaparte yang telah menaklukkan Spanyol. Dia merupakan salah satu pendekar klan Bani Makhzum. Ketangkasannya, kegigihannya, kecemerlangannya dalam mencari siasat, ketajamannya dalam menganalisis medan, kecantikannya dalam memainkan pedang, dan semangatnya mampu melumpuhkan dua negara adidaya saat itu, imperium Persia dan Romawi, sehingga keduanya berlutut di hadapan Islam.

“Prestasi” perangnya yang telah terasah semenjak dia masih jahil tentang Islam, mendapatkan angin segar ketika ia menyatakan cintanya kepada Sang Mahakuasa. Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengangkatnya sebagai panglima untuk setiap ekspedisi militer yang beliau tidak bisa mengikutinya.

Pada masa khalifah pertama, Abu Bakr Ash-Shiddiq radliyallahu ‘anhu, jabatan sebagai panglima tetap dipegangnya atas mandat langsung dari sang khalifah. Akan tetapi, setelah “prestasinya” dikenal oleh masyarakat luas dan dia mulai diunggul-unggulkan, dia ditimpa cobaan yang mungkin untuk orang sekelas kita sangatlah berat. Cobaan itu merupakan kebijakan pertama yang diberlakukan khalifah kedua, ‘Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu. Dia dibebastugaskan dari jabatannya. Setelah menjadi seorang panglima, dia menjadi tentara biasa.

Setelah Al-Islam tersebar di segala penjuru. Setelah negri-negri mengakui kekuatan muslimin. Setelah jerih payahnya, taktiknya, komandonya, keringatnya, dan semuanya telah dia korbankan, saat itulah dia diperintah untuk turun. Dia diperintah untuk turun dari jabatan yang diberikan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya. Betapa terlihat berat untuk dijalani. Akan tetapi, dengan jiwa kepahlawanannya, dia mengiyakan perintah dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah atas mandat dari sang khalifah.

Ya,.. lelaki itu adalah Abu Sulaiman, Khalid bin Walid bin Al-Mughierah radliyallahu ‘anhu, sang pedang dari Pedang-Pedang Allah.

***

Ikhwan akhawati fillah, itulah sesobek lembar kehidupan seorang insan dari para pejuang cinta ilahi, sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaik-baik generasi yang telah mengantingkan estafet Islam. Peletak batu pertama fondasi Syariat Muhammadiyah. Sebaik-baik figur idola. Menyelami lautan kehidupan sosial mereka, muamalah mereka dengan sesama, dengan anggota, dengan pemimpin, dan dengan siapapun, tak henti-hentinya kita mendapatkan mutiara yang berkerlipan memendarkan cahaya.

Dalam narasi ini, penulis menggarisbawahi adegan terakhir, yaitu ketika sang Pedang Allah mendapat mandat dari sang Bapaknya Singa, Amirul Mukminin ‘Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu, untuk turun jabatan. Bagaimana dia menyikapi perintah seorang pemimpin yang terlihat sangat berat untuk dilakukan. Ketika dia sedang naik daun, ketika dia berhasil meluluhlantakkan both super power Persia dan Romawi, ketika namanya sudah mulai ditulis dengan tinta emas sejarah sebagai penakluk dunia, dua kata menghampirinya, “Turunlah engkau!” Betapa terlihat berat. Namun, dalam keadaan demikian, tiada kata selain taat yang keluar dari mulutnya. Dia tidak membantah. Sendika dawuh dengan SK dari ‘Umar tentang pemberhentian masa jabatannya.

Ikhwan akhawati fillah, itulah cita para pejuang cinta sejati. Mereka tak pernah kenal dogma ‘briefl its briefl’ seperti yang ditekankan Hitler kepada para loyalisnya. Hanya saja, prinsip taat kepada perintah pimpinan itu sendiri telah terpatri kuat dalam jiwa-jiwa mereka. Tidak hanya di saat yang menyenangkan hati mereka mau taat, bahkan sam’an wa tha’atan fil mansyathi wal makrahi, taat di saat yang disukai maupun dibenci.

Jarak yang jauh, panas yang menyengat, bebuahan yang menggiurkan, dan pepohonan Madinah yang mulai menghijau tidak membuat mereka absen dari perang Tabuk, kecuali para munafik, duri dalam daging muslimin. Hawa yang dingin, keadaan yang mencekam, dan musuh yang sewaktu-waktu dapat menghabisi tak membuat Hudzaifah membangkang ketika diperintah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi spion pada perang Ahzab. Pun ketika Rasulullah memerintah para sahabat untuk membuntuti para bekas tentara Uhud yang sedang dalam perjalanan menuju Makkah, mereka tetap mengiyakan. Padahal, keletihan telah mendera dan darah mereka saat itu belum kering, sehabis perang Uhud itu sendiri. Mereka tetap mengatakan iya dan melaksanakan perintah beliau, walaupun keadaan sangat berat sekalipun.

Ikhwan akhawati fillah, sekilas memang dalam contoh-contoh tersebut, ketaatan para sahabat terlihat lebih mudah karena adanya timbal balik dari sang pemimpin sendiri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah sebaik-baik pemimpin dan beliau disukai para sahabat, sehingga terlihat wajar jika para sahabat mau mentaati beliau. Hanya saja, terlepas dari masalah baik tidaknya seorang pemimpin, kita pun harus menyadari urgensi ketaatan kepada pemimpin itu sendiri. Ketika suatu organisasi ketaatan anggotanya nihil, maka hal itu semisal orang yang otaknya masih berfungsi, tetapi dia bisu, buta, dan cacat kaki serta tangan. Takkan berguna. Sebab, seorang pemimpin adalah bagai otak, sedangkan para anggota adalah bagai indera pengeksekusi perintah dari otak tersebut. Ketika perintah seorang pemimpin tak diindahkan, maka takkan berjalan roda organisasi. Dalam keadaan tersebut, cepat atau lambat kehancuran komunitas itu dapat ditunggu.

The last but not least kata mereka.. Islam sedang menunggu pejuang-pejuang cinta baru yang meniti jalan juang para pejuang cinta sejati itu, dan kitalah yang ditakdirkan untuk menjadi para peniti jalan itu. Karena itu, mari kita mentaati amir muslimin atas segala perintah mereka, kecuali, “Jika disuruh untuk maksiat, tiada kata taat.” Begitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cita-cita kekhalifahan, takkan tercapai jika kita tak memulainya dari hal yang kecil terlebih dahulu. Karena sebuah gunung yang kokoh, takkan berdiri jika tak ada batuan kecil yang menyusunnya. Mari kita mulai.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?

Posted by: Zairafa Al-Fikry

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s